Beberapa waktu yang lalu saya baru saja naik pesawat untuk kesekian kalinya, namun baru saat itu saya memperhatikan sebuah suara yang terdengar dari pengeras suara di dalam pesawat yang diawali dengan “Good afternoon everyone, this is your captain speaking…” setelah itu suara tersebut menjelaskan tentang siapa dirinya, kemana pesawat itu akan menuju, berapa waktu yang akan di tempuh dan berapa ketinggian yang akan dicapai. Setelah itu suara itu tidak terdengar lagi untuk beberapa saat. Kemudian disaat pesawat akan mengalami turbulence suara yang sama kembali terdengar dan menjelaskan bahwa karena cuaca tidak terlalu baik maka pesawat akan mengalami guncangan untuk beberapa saat dan penumpang diminta menggunakan sabuk pengaman di tempat duduk dan duduk dengan tenang. Waktu pesawat akan mendarat suara itu terdengar lagi, dia menjelaskan keadaan tempat yang akan dituju misalnya mengenai cuaca, temperature dan jam tempat tujuan.
Saya rasa kehidupan kita bisa diumpamakan seperti sedang naik pesawat. Ketika perjalanan kita dalam “pesawat kehidupan” dimulai hal yang harus kita lakukan adalah percaya pada Tuhan Yesus yang adalah pilot pesawat hidup kita. Percaya bahwa Pilot yang mengendarai pesawat kehidupan kita adalah seorang yang terlatih, dapat diandalkan dan sanggup membawa kita pada tujuan kita dengan selamat. Sebelum pesawat kehidupan kita akan take off, Tuhan Yesus sang pilot yang handal akan berbicara kepada kita, Dia akan mulai dengan menjelaskan siapa diriNYA (“Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14:6), kemudian Dia akan menjelaskan bahwa Dia akan membawa kita kepada kemenangan demi kemenangan melalui badai demi badai dalam kehidupan (“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Roma 8:37). Selanjutnya Dia akan menjelaskan ketinggian dan waktu yang akan ditempuh (“Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap” mazmur 90:10).
Ketika pesawat sudah berada di atas udara kadang pengen banget kita duduk di sebelah Tuhan Yesus sang Pilot untuk mengaturNYA (setidaknya itu yang sering saya rasakan). Pengen banget rasanya memaksaNya menurunkan ketinggian pesawat kehidupan ini biar seandainya kalo terjadi apa-apa kita bisa menyelamatkan diri, kadang pengen juga kasih tau Dia bahwa seharusnya Dia mengarahkan pesawat kehidupan kita ke ke kanan, bukan ke kiri dan lain sebagainya. Tapi terkadang (sering sekali bahkan) Dia seolah tidak menggubris keinginan kita dan tetap pada rencanaNya yang semula. Terdengar kejam? Tidak juga sebenarnya, karena yang harus kita ingat adalah He is the pilot, not us! Tidak seharusnya kita mengaturNYA, Dia yang lebih tahu apa yang harus Dia lakukan dan apa yang akan Dia lakukan kelak karena Dialah Allah (“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu , dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” Yesaya 55:8). Waktu kita terus-terusan berusaha untuk meyakinkanNya agar mengikuti “arahan” kita saat menempuh perjalanan kehidupan ini, mungkin tatapan mataNya menggambarkan sebuah kalimat yang sering kali diungkapkanNya: “why don’t you just trust Me? Trust Me ad you will be amazed ” (“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” Yeremia 29:11).
Dan bagian yang paling seru adalah ketika turbulence atau goncangan itu datang. Sebelum turbulence itu kita alami, Pilot kita akan memperingatkan kita terlebih dahulu (“Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” 1 kor 10:13). Tapi waktu berbagai pergumulan dalam pekerjaan, kesehatan, pasangan hidup, keluarga atau apapun itu datang menggoncang pesawat kehidupan kita, ingin rasanya kita segera berlari ke ruang kendali pesawat dan menanyakan kepada Sang Pilot apa yang sedang terjadi, kenapa harus terjadi, berapa lama lagi ini akan berlangsung dan seribu pertanyaan lainnya. Menurut saya itu adalah suatu reaksi yang manusiawi dan wajar, namun terkadang mengetahui jawaban dari sebuah pertanyaan “kenapa harus saya yang mengalami pencobaan seberat ini?” atau “kenapa Tuhan menjodohkan saya dengan orang yang tidak saya sukai?” atau “kapan penyakit ini akan sembuh?” tidak akan banyak membantu kita dalam melalui pergumulan itu. Yang akan sangat membantu kita dalam melewati berbagai pergumulan hidup adalah dengan mendengar suaraNya dan mengikuti arahanNya dan yang terpenting adalah percaya bahwa God always in control. Sama seperti seorang pilot yang berusaha menenangkan para penumpangnya ketika melewati cuaca buruk di udara dengan memberi informasi dan meminta para penumpang untuk duduk tenang di kursi masing-masing dan mempercayainya, demikian juga Tuhan Yesus ketika memimpin kita melalui berbagai “cuaca buruk” dalam hidup, ketika kita mulai meragukan kehebatanNya, Dia berusaha meyakinkan dan menenangkan kita dengan berfirman “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!” mazmur 46:10
Kawan, mungkin sekarang Sang Pilot hidup kita, Tuhan Yesus sedang memberikanmu pengarahan apa yang Ia mau kalian lakukan dan ke arah mana Ia akan membawa masa depanmu. Jangan lewatkan kesempatan yang baik itu! Siapkan hatimu, dengarkan baik-baik dan lakukan apa saja yang menjadi perintahNya, sekalipun terkadang petunjuk dan perintahNya tidak masuk akal sama sekali, tapi percayalah bahwa Ia adalah Allah yang tidak pernah salah.
Atau mungkin sekarang pesawat kehidupan mu sedang di hantam badai dan cuaca buruk dan saat ini kalian merasa bahwa selama turbulence kehidupan ini terjadi Tuhan Yesus tidak memperdengarkan suaraNya dan memberitahu kita kemana kita harus melangkah dan apa yang harus kita perbuat. Dan jika itu benar-benar terjadi hanya satu yang dapat kita lakukan yaitu kita harus benar-benar mempercayakan dan menyerahkan pesawat kehidupan kita kepadanya. Percayalah kalo Dia terlalu sanggup untuk membawamu melewati setiap badai kehidupan. Daripada bertanya kepada Tuhan dengan marah: “kenapa badai ini harus menghantam pesawatku?!?” lebih baik kita merendahkan hati kita dan bertanya dengan tulus kepada Tuhan: “Tuhan apa yang mau Kau ajarkan kepadaku lewat badai hidup ini?”. Dijamin hati Tuhan akan luluh melihat kita mengajukan pertanyaan yang tulus dan penuh penyerahan ini.
Persoalan boleh tetap ada, pergumulan boleh kian berat, cuaca kehidupan boleh semakin buruk tapi “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru : mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” Yesaya 40:30
Have a safe “flight”, friends!
God bless you!

makasih inspirasinya Chika :)
BalasHapusMenyentuh. Sungguh :'(